Pernahkah membayangkan apa yang
saat ini tinggal di puncak gunung berapi? Gunung yang sedang mengeluarkan asap
vulkanik yang menusuk hidung dan membuat mata kita perih. Gunung yang
mengeluarkan lava panas yang melahap habis apapun yang ia lewati hingga hangus
hitam tak berdaya. Alam di sekitar gunung yang telah meletus rusak dan tidak
berpenghuni. Hingga berpuluh puluh tahun berlalu membawa kesuburan dan
kehidupan yang lebih baik.
sekarang disinilah aku tinggal, di atas puncak
gunung bersama kawananku yang lain. Aku adalah seekor naga kecil. Aku tinggal
bersama ibuku dan aku tidak mempunyai ayah. Yah ibu bilang ayah sudah tiada
dari sejak aku lahir. Jadi aku hanya tinggal berdua bersama ibuku.Satu lagi
kekuranganku selain tidak mempunyai ayah aku juga tidak mempunyai sayap. Sayap
yang biasanya dimiliki oleh naga lainnya. Aku tidak mempunyai sayap sejak
lahir. Tapi ibuku bilang aku dapat tumbuh selayaknya naga lain yang mempunyai
sayap.
pada suatu malam, aku terbangun dan melihat tidak
ada ibuku yang setiap malam selalu ada disampingku, aku merasa mungkin ibu
sedang pergi kedapur atau kamar mandi. Akupun bangun dan beranjak untuk
memeriksanya, aku berjalan kearah dapur dan sesampainya
didapur aku tidak melihat sosok dari ibuku. Aku juga telah mengecek kamar mandi
tapi hasilnya pun tetap sama, Ibuku tidak ada disana. Lalu aku mendengar
seperti suara teriakan di luar rumah dan dengan secepat mungkin aku berlari
keluar rumah dan aku sangat terkejut dengan apa yang aku lihat. Seorang manusia
sudah menangkap Ibuku dengan jarring
yang besar. Ia sangat sangar dan menakutkan. Rasanya ingin sekali menolong
ibuku tapi apadayaku yang tidak bisa melakukan apa-apa.
Setelah mempertimbangkan
banyak hal, akhirnya aku mengikuti manusia tadi untuk menyelamatkan ibuku.
Seharusnya aku meminta bantuan dari para tetangga, tapi aku yakin mereka masih
bergelut dengan mimpi indah mereka. Aku mengikuti Manusia tadi dengan jarak
sekitar 3 meter dibelakangnya. Aku khawatir jika aku terlalu dekat, Ia akan
menangkapku dengan jarring yang sama dan berakhir sama seperti ibuku. Aku harus
bisa menyelamatkan ibuku, bukannya ikut terjerat dalam jebakan manusia yang
bodoh itu. Sayangnya aku masih tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk
menyelamatkan Ibuku. Aku merasa bingung bisakah aku menyelamatkan ibu atau aku
akan menambah masalah ibu. Aku yakin jika ibu mengetahui kalau aku mengikuti
manusia dan berada dalam bahaya seperti ini, pasti ia akan marah dan menyuruhku
untuk pulang. Dan membiarkan manusia itu melakukan hal jahat pada ibuku. aku
tahu manusia itu adalah makhluk yang jahat.
Ibuku sudah sering bercerita, bahwa manusia itu jahat. Setiap malam
sebelum aku tidur, ibuku selalu menceritakan sebuah kisah dimana manusia selalu
menjadi pihak yang jahat. Seringkali dalam cerita manusia merusak dan mencemari
alam. Padahal ia juga tinggal dialam. Manusia menebang pohon untuk membangun
tempat tinggal. Ratusan burung mati karena manusia yang menebang pohon dimana
para burung tinggal. Tumbuhan juga kian hari kian mengecil ukurannya. Mungkin
itu disebabkan dari kurangnya nutrisi yang tumbuhan dapat dari tanah. karena
tanah sudah tercemari oleh limbah-limbah hasil dari produksi manusia.
Untung saja aku masih bisa
mengikuti manusia tadi walaupun pikiranku berada dimana-mana. Ternyata Ia
membawa ibuku ke rumahnya. Aku melihat di rumahnya itu banyak sekali manusia
berkumpul. Dan tidak kukira sebelumnya, ternyata ia memasukan ibuku kedalam
kandang yang berada di luar rumahnya. Aku sangat yakin bahwa manusia itu sangat
kejam.
“Hai nak, apa yang sedang kau lakukan disana?” tiba
tiba aku dikejutkan dengan suara yang berasal dari atas. Dan aku melihat burung
kakak tua yang berada dalam kurungan bambu. Ia kembali bertanya “hei, Aku
bertanya padamu nak!” “Hehe maaf pak, aku sangat terkejut jadi malah bengong”. Aku
menjawab dengan bodohnya.
Aku
bercakap-cakap dengan pak burung cukup lama. Aku menceritakan masalahku dan ia
memberi tahu apa yang seharusnya aku lakukan untuk menyelamatkna ibuku.
“Pak aku sangat sedih, Ibuku ditangkap oleh manusia
jahat itu.” keluhku.
“Ya, Aku tahu. Manusia itu memang seorang pemburu.”
Tanggap si pak kakak tua.
“Apa? pemburu?” aku bertanya kebingungan.
“Ya, pemburu. Pemburu adalah pekerjaan manusia yang
mengharuskan ia untuk memburu hewan-hewan untuk dijual belikan atau untuk
dipajang sebagai hiasan atau juga diolah dagingnya untuk dimakan.” Jelas si Pak
kakak tua.
“Owh begitu…” Sejenak, hanya hening yang tercipta
diantara kami berdua hingga pak kakak tua bertanya kembali “Nak, Kenapa kau
bisa ssampai di tempat ini?” “Aku mengikuti manusia itu, bermaksud menolong
ibuku.” Aku menjawab dengan nada sedih.akupun bertanya sebelum pak kakak tua
ini bertanya kembali “Apa bapak mempunyai ide untuk menyelamatka ibuku?” Si pak
kakak tua hanya bergumam. Ia terlihat seddang berpikir keras. Terlihat dari
kedua alisnya yang terlihat akan menyatu.Tak lama kemudian ia menarik nafas
berat dan berkata “ Begini nak, sebaiknya mintalah bantuan pada binatanng malam
yang masih terjaga pada malam selarut ini. Katakan bahwa ibumu ditawan oleh
manusia, aku yakin penghuni hutan pasti membantumu.” Karena tidak terlalu
mengerti akupun bertanya “ Hewan apa yang selarut ini masih terjaga?” “Ehhh,
apa naga kecil sepertimu tidak mengetahuinya?” Ia terlihat seperti mengejekku
sekarang. Aku begitu sebal mendengarnya. Tapi terlintas jawaban yang memang
sudah didepan mata.
“Pak kakak tua, Kau sekarang masih terbangun. Jadi kau
bisa menolongku pak.” Aku benar bukan. Lalu dengan kekehan kecil ia menjawab “Bagaimana
bisa aku menolongmu, apakah kau tidak melihat nak. Aku ada didalam sebuah
sangkar.” “Jadi aku harus meminta bantuan kepada siapa?” Tanyaku kembali. “Itu
tugasmu untuk mencarinya” jawabnya dengan santai.
Dengan
bermodalkan saran dari pak kakak tua, aku pergi kehutan untuk mencari bantuan.
aku menemui banyak sekali hewan yang sedang tertidur dengan lelapnya. Aku tak
kunjung menemukan hewan yang masih terjaga selarut ini. Kakiku sudah mulai
pegal tapi bantuan tak kunjung kudapat. Aku beristirahat sejenak untuk minum
dari sebuah parit kecil. Aku terduduk kemudian tidur terlentang melihat keatas.
Betapa bahagianya aku melihat burung hantu yang sedang asyik berengger di dahan
pohon. Akupun berteriak meminta bantuanya.
“pak burung hantu, bisakah anda menolongku. Ibuku
ditawan oleh manusia.” aku bertanya
“maaf nak, aku terlalu kecil untuk menolongmu melawan
manusia.” Ia menolak. Akupun mencari bantuan lain.
Aku bertemu dengan kancil. aku pun bertanya kepadanya “
kancil, bisakah menolongku menyelamatkan ibuku yang ditawan oleh manusia?”
kancil pun menjawab “apa? manusia? sebaiknya kau pulang saja manusia itu
berbahaya.” Dan begitulah sudah banyak hewan yang aku temui. Tapi taka da
satupun yang bisa membantuku.
Hari
sudah bernjak pagi, aku masih belum menemukan bantuan. Aku dengan berat hati
kembali ke tempat tinggal si pemburu. Aku memberanikan diri untuk berbicara
kepada si pemburu. “wahai manusia, Kenapa kau menagkap ibuku?” aku bertanya
dengan ketakutan. “apa maksudmu naga kecil? Aku tidak menangkap ibumu aku
menolongnya. Ia terluka. Lihat sayapnya berdarah dan kakinya patah. Aku
menemukannya di puncak gunung dan aku bingung harus berbuat bagaimna akhirnya
aku membawanya kesini untuk aku obati.” Si pemburu tadi menjelaskan panjang
lebar. “jadi kau tidak akan menjual ibuku? Kau tidak akan memakan ibuku?”
secercah harapan muncul sedikit kebahagiaan mulai menyeruak kedalam hatiku. “yang
benar saja naga kecil? aku bukan seorang penyuka daging. Aku vegetarian, aku
lebih suka memakan sayuran dan buah-buahan” jawabnya santai. “Tapi pak burung bilang kau adalah seorang
pemburu?” aku masih bingung “Ya, dulu aku memang seorang pemburu, Itu sebelum
aku keluar dari organisasi pasar penggelapan hewan. tapi sekarang aku sudah
keluar dan menjadi seorang pencari obat. Aku tinggal disini agar dekat dengan
sumber tanman obat yang aku perlukan. ” “Jadi aku dan ibuku bisa pulang? Ibuku
tidak apa-apakan?” “ya tentu saja, ia akan segera sembuh setelah beberapa hari.”
Aku
tinggal bersama ibuku di rumah si pencari obat beberapa hari. ternyata ia tidak
jahat. Ia sama sekali tidak jahat. Aku menyukai orang ini. Ia begitu baik dan
bersahabat. Ia menolong ibuku dan merawat ibuku hingga sembuh. Ia juga menjadi
penjaga hutan rindang kami. Ia juga membantu manusia lainnya dengan mencari
obat disini. Aku mengerti sekarang. Tidak semua manusia itu jahat.
--- selesai---

0 komentar:
Posting Komentar