Pages

Kamis, 02 Februari 2017

MANUSIA JAHAT !

Pernahkah membayangkan apa yang saat ini tinggal di puncak gunung berapi? Gunung yang sedang mengeluarkan asap vulkanik yang menusuk hidung dan membuat mata kita perih. Gunung yang mengeluarkan lava panas yang melahap habis apapun yang ia lewati hingga hangus hitam tak berdaya. Alam di sekitar gunung yang telah meletus rusak dan tidak berpenghuni. Hingga berpuluh puluh tahun berlalu membawa kesuburan dan kehidupan yang lebih baik.
sekarang disinilah aku tinggal, di atas puncak gunung bersama kawananku yang lain. Aku adalah seekor naga kecil. Aku tinggal bersama ibuku dan aku tidak mempunyai ayah. Yah ibu bilang ayah sudah tiada dari sejak aku lahir. Jadi aku hanya tinggal berdua bersama ibuku.Satu lagi kekuranganku selain tidak mempunyai ayah aku juga tidak mempunyai sayap. Sayap yang biasanya dimiliki oleh naga lainnya. Aku tidak mempunyai sayap sejak lahir. Tapi ibuku bilang aku dapat tumbuh selayaknya naga lain yang mempunyai sayap.            
pada suatu malam, aku terbangun dan melihat tidak ada ibuku yang setiap malam selalu ada disampingku, aku merasa mungkin ibu sedang pergi kedapur atau kamar mandi. Akupun bangun dan beranjak untuk memeriksanya, aku berjalan kearah dapur dan sesampainya didapur aku tidak melihat sosok dari ibuku. Aku juga telah mengecek kamar mandi tapi hasilnya pun tetap sama, Ibuku tidak ada disana. Lalu aku mendengar seperti suara teriakan di luar rumah dan dengan secepat mungkin aku berlari keluar rumah dan aku sangat terkejut dengan apa yang aku lihat. Seorang manusia sudah menangkap  Ibuku dengan jarring yang besar. Ia sangat sangar dan menakutkan. Rasanya ingin sekali menolong ibuku tapi apadayaku yang tidak bisa melakukan apa-apa.
Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya aku mengikuti manusia tadi untuk menyelamatkan ibuku. Seharusnya aku meminta bantuan dari para tetangga, tapi aku yakin mereka masih bergelut dengan mimpi indah mereka. Aku mengikuti Manusia tadi dengan jarak sekitar 3 meter dibelakangnya. Aku khawatir jika aku terlalu dekat, Ia akan menangkapku dengan jarring yang sama dan berakhir sama seperti ibuku. Aku harus bisa menyelamatkan ibuku, bukannya ikut terjerat dalam jebakan manusia yang bodoh itu. Sayangnya aku masih tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan Ibuku. Aku merasa bingung bisakah aku menyelamatkan ibu atau aku akan menambah masalah ibu. Aku yakin jika ibu mengetahui kalau aku mengikuti manusia dan berada dalam bahaya seperti ini, pasti ia akan marah dan menyuruhku untuk pulang. Dan membiarkan manusia itu melakukan hal jahat pada ibuku. aku tahu manusia itu adalah makhluk yang jahat.
Ibuku sudah sering  bercerita, bahwa manusia itu jahat. Setiap malam sebelum aku tidur, ibuku selalu menceritakan sebuah kisah dimana manusia selalu menjadi pihak yang jahat. Seringkali dalam cerita manusia merusak dan mencemari alam. Padahal ia juga tinggal dialam. Manusia menebang pohon untuk membangun tempat tinggal. Ratusan burung mati karena manusia yang menebang pohon dimana para burung tinggal. Tumbuhan juga kian hari kian mengecil ukurannya. Mungkin itu disebabkan dari kurangnya nutrisi yang tumbuhan dapat dari tanah. karena tanah sudah tercemari oleh limbah-limbah hasil dari produksi manusia.
Untung saja aku masih bisa mengikuti manusia tadi walaupun pikiranku berada dimana-mana. Ternyata Ia membawa ibuku ke rumahnya. Aku melihat di rumahnya itu banyak sekali manusia berkumpul. Dan tidak kukira sebelumnya, ternyata ia memasukan ibuku kedalam kandang yang berada di luar rumahnya. Aku sangat yakin bahwa manusia itu sangat kejam.
“Hai nak, apa yang sedang kau lakukan disana?” tiba tiba aku dikejutkan dengan suara yang berasal dari atas. Dan aku melihat burung kakak tua yang berada dalam kurungan bambu. Ia kembali bertanya “hei, Aku bertanya padamu nak!” “Hehe maaf pak, aku sangat terkejut jadi malah bengong”. Aku menjawab dengan  bodohnya.
            Aku bercakap-cakap dengan pak burung cukup lama. Aku menceritakan masalahku dan ia memberi tahu apa yang seharusnya aku lakukan untuk menyelamatkna ibuku.
“Pak aku sangat sedih, Ibuku ditangkap oleh manusia jahat itu.” keluhku.
“Ya, Aku tahu. Manusia itu memang seorang pemburu.” Tanggap si pak kakak tua.
“Apa? pemburu?” aku bertanya kebingungan.
“Ya, pemburu. Pemburu adalah pekerjaan manusia yang mengharuskan ia untuk memburu hewan-hewan untuk dijual belikan atau untuk dipajang sebagai hiasan atau juga diolah dagingnya untuk dimakan.” Jelas si Pak kakak tua.
“Owh begitu…” Sejenak, hanya hening yang tercipta diantara kami berdua hingga pak kakak tua bertanya kembali “Nak, Kenapa kau bisa ssampai di tempat ini?” “Aku mengikuti manusia itu, bermaksud menolong ibuku.” Aku menjawab dengan nada sedih.akupun bertanya sebelum pak kakak tua ini bertanya kembali “Apa bapak mempunyai ide untuk menyelamatka ibuku?” Si pak kakak tua hanya bergumam. Ia terlihat seddang berpikir keras. Terlihat dari kedua alisnya yang terlihat akan menyatu.Tak lama kemudian ia menarik nafas berat dan berkata “ Begini nak, sebaiknya mintalah bantuan pada binatanng malam yang masih terjaga pada malam selarut ini. Katakan bahwa ibumu ditawan oleh manusia, aku yakin penghuni hutan pasti membantumu.” Karena tidak terlalu mengerti akupun bertanya “ Hewan apa yang selarut ini masih terjaga?” “Ehhh, apa naga kecil sepertimu tidak mengetahuinya?” Ia terlihat seperti mengejekku sekarang. Aku begitu sebal mendengarnya. Tapi terlintas jawaban yang memang sudah didepan mata.
“Pak kakak tua, Kau sekarang masih terbangun. Jadi kau bisa menolongku pak.” Aku benar bukan. Lalu dengan kekehan kecil ia menjawab “Bagaimana bisa aku menolongmu, apakah kau tidak melihat nak. Aku ada didalam sebuah sangkar.” “Jadi aku harus meminta bantuan kepada siapa?” Tanyaku kembali. “Itu tugasmu untuk mencarinya” jawabnya dengan santai.
            Dengan bermodalkan saran dari pak kakak tua, aku pergi kehutan untuk mencari bantuan. aku menemui banyak sekali hewan yang sedang tertidur dengan lelapnya. Aku tak kunjung menemukan hewan yang masih terjaga selarut ini. Kakiku sudah mulai pegal tapi bantuan tak kunjung kudapat. Aku beristirahat sejenak untuk minum dari sebuah parit kecil. Aku terduduk kemudian tidur terlentang melihat keatas. Betapa bahagianya aku melihat burung hantu yang sedang asyik berengger di dahan pohon. Akupun berteriak meminta bantuanya.
“pak burung hantu, bisakah anda menolongku. Ibuku ditawan oleh manusia.” aku bertanya
“maaf nak, aku terlalu kecil untuk menolongmu melawan manusia.” Ia menolak. Akupun mencari bantuan lain.
Aku bertemu dengan kancil. aku pun bertanya kepadanya “ kancil, bisakah menolongku menyelamatkan ibuku yang ditawan oleh manusia?” kancil pun menjawab “apa? manusia? sebaiknya kau pulang saja manusia itu berbahaya.” Dan begitulah sudah banyak hewan yang aku temui. Tapi taka da satupun yang bisa membantuku.
            Hari sudah bernjak pagi, aku masih belum menemukan bantuan. Aku dengan berat hati kembali ke tempat tinggal si pemburu. Aku memberanikan diri untuk berbicara kepada si pemburu. “wahai manusia, Kenapa kau menagkap ibuku?” aku bertanya dengan ketakutan. “apa maksudmu naga kecil? Aku tidak menangkap ibumu aku menolongnya. Ia terluka. Lihat sayapnya berdarah dan kakinya patah. Aku menemukannya di puncak gunung dan aku bingung harus berbuat bagaimna akhirnya aku membawanya kesini untuk aku obati.” Si pemburu tadi menjelaskan panjang lebar. “jadi kau tidak akan menjual ibuku? Kau tidak akan memakan ibuku?” secercah harapan muncul sedikit kebahagiaan mulai menyeruak kedalam hatiku. “yang benar saja naga kecil? aku bukan seorang penyuka daging. Aku vegetarian, aku lebih suka memakan sayuran dan buah-buahan” jawabnya santai.  “Tapi pak burung bilang kau adalah seorang pemburu?” aku masih bingung “Ya, dulu aku memang seorang pemburu, Itu sebelum aku keluar dari organisasi pasar penggelapan hewan. tapi sekarang aku sudah keluar dan menjadi seorang pencari obat. Aku tinggal disini agar dekat dengan sumber tanman obat yang aku perlukan. ” “Jadi aku dan ibuku bisa pulang? Ibuku tidak apa-apakan?” “ya tentu saja, ia akan segera sembuh setelah beberapa hari.”
            Aku tinggal bersama ibuku di rumah si pencari obat beberapa hari. ternyata ia tidak jahat. Ia sama sekali tidak jahat. Aku menyukai orang ini. Ia begitu baik dan bersahabat. Ia menolong ibuku dan merawat ibuku hingga sembuh. Ia juga menjadi penjaga hutan rindang kami. Ia juga membantu manusia lainnya dengan mencari obat disini. Aku mengerti sekarang. Tidak semua manusia itu jahat.


--- selesai---

0 komentar:

Posting Komentar